USIA
ANAK 6-14 TAHUN; MASA PEMBENTUKAN KEPRIBADIAN ISLAMI YANGUNGGUL
OLEH: Kang Arul
Lembaga pendidikan yang pertama adalah
keluarga dan orang tua menjadi pengajar sekaligus pendidik bagi anak-anaknya.
Anak terlahir dalam fitrah (bersih) sebagaimana kertas putih, tergantung mau
digambar seperti apa dan bagaimana gambar yang dilukiskan pada kertas putih
tersebut. Hasil lukisan bagus dan tidaknya ada pada kekuasaan sang pelukis.
Demikian kiasan itu, baik tidaknya pekerti anak, berhasil dan tidaknya seorang
anak menggantung kedua orang tua. Seperti apa pengajaran dan pendidikan pada
anaknya, dalam lingkungan seperti apa anaknya tinggal dan bagaimana dia belajar
akan menentukan masa depannya kelak. Menurut Thohari Musnamar (1992) Fitrah kerap kali juga
diartikan sebagai bakat, kemampuan, atau potensi. Jika demikian, maka bakat
atau kemampuan dalam setiap diri anak bisa digali melalui dengan belajar. Dalam
konteks arti luas maka potensi dan bakat tersebut diperhatikan pula dalam
kajian islam tepatnya konseling islami.
Dalam kajian barat konsep ini disebut
dengan tabula rasa yang dikemukakan oleh salah satu aliran empirisme John
Locke. Perdebatan panjang tentang isu-isu perkembangan manusia, diantara salah
satu isu adalah tentang perkembangan manusia bersifat alami (nature). Artinya,
kondisi dimana ia terbentuk dari lingkungan belajar, pola asuh, pergaulan dan
semacamnya. Namun jauh sebelum teori itu terlahir, konsep tabularasa atau anak
seperti lembaran kertas putih sudah dijelaskan oleh islam lewat konsep yang
dibawakan oleh Nabi Muhaammad saw. Dalam riwayat Abi Hurairah: Sesungguhnya
Nabi Muhammad Saw. telah bersabda: Setiap manusia dilahirkan dalam keadaan
fitrah. Dan kemudian ayah-ibunya yang menjadikan Yahudi, Nasrani atau Majusi.
Dan jika ayah-ibunya itu seorang muslim, maka jadilah (si anak) seorang muslim (H.R.
Muslim, Juz. IV, hlm. 2048).
Perkembangan anak sangat dipengaruhi
oleh aktivitas belajar dan bimbingam kedua orang tua. Pengetahuan tentang
perkembangan individu anak, murid, santri, atau peserta didik dalam proses
pembelajaran sangat penting bagi orang tua, guru, pendidik, pengasuh, dan stakeholder dalam dunia pendidikan
formal (MI-Mts-MA/sederajat) atau non-formal dan dalam dunia pesantren.
Perkembangan individu tersebut ditunjukkan bagaimana perkembangan anak-anak,
remaja dan dewasa tumbuh dan berkembang secara fisik (perubahan organ tubuh),
psikis (gejolak jiwa) dari fase ke fase seperti dalam pertumbuhan fisik,
kognitif (pengetahuan), afektif (perasaan), social, psikomotor dan moral
(akhlak). Pemahaman perkembangan individu merupakan bagian integral yang tidak
bisa terpisahkan bagi orang tua dan pendidik dalam merawat, mengajar dan
mendidik anak-anaknya maupun peserta didik. Proses pengajaran dan pembelajaran
tidak akan berjalan efektif dan efesien jika tidak memahami perkembangan
individu secara menyeluruh.
Perkembangan individu dapat diartikan
sebagai perubahan yang sistematis, progresif dan berkesinambungan dalam diri
individu sejak terlahir hingga akhir hayatnya atau dapat pula diartikan perubahan-perubahan yang dialami individu
menuju tingkat kedewasaan atau kematangan (iskandar, 2012). Perkembangan
individu tumbuh dan berkembang secara fisik dan psikis. Secara fisik perkembangan
terjadi sesuai dengan fase-fase perkembangan mulai dari anak-anak sampai dewasa,
biasanya ditengarai dengan perubahan tubuh, otot dan organ yang lain. Sedangkan
secara psikis perkembangan individu juga mengalami perubahan imajinasi fantasi
ke realistis. Atau dengan kata lain dari pemikiran ke kanak-kanakan yang
bersifat ilustrasi belaka kepada pemikiran yang nyata dan kongkrit. Maknanya
secara prinsipil perkembangan merupakan suatu yang tidak perna berhenti dan
semua aspek perkembangan saling
berhubungan.
Sejalan dengan fase-fase perkembangan
pada manusia sejak dari masa kanak-kanak sampai masa tua Havinghurst dalam Made
Pidarta (1997) membagi fase perkembangan sebagaimana berikut ; Fase
perkembangan masa kanak-kanak, masa anak, masa remaja, masa dewasa awal, masa
setenga baya dan fase perkembangan masa tua. Untuk memenuhi tugas-tugas pada
setiap fase dicapai melalui belajar yang merupakan aktivitas manusia yang
sangat vital dan nomor wahid. Ketika bayi manusia baru terlahir, jika tidak
mendapatkan bantuan dari orang dewasa niscaya binasalah ia. Tidak akan mampu
hidup sebagai manusia jika ia tidak
diajar atau dididik oleh manusia lain, meskipun bayi yang baru lahir membawa
beberapa naluri atau instink dan potensi-potensi yang dimiliki untuk
kelangsungan hidupnya. Namun potensi bawaan tersebut tidak dapat berkembang
dengan baik tanpa adanya pengaruh dari luar. Dengan demikian manusia
membutuhkan kepandaian yang bersifat jasmaniah dan rahaniah, semua ini hanya
bisa dicapainya dengan belajar.
Belajar dalam pandangan islam memiliki
arti sangat penting, sehingga hampir setiap saat manusia tidak perna lepas dari
aktivitas belajar. Keunggulan suatu ummat manusia atau bangsa juga sangan
tergantung kepada seberapa banyak mereka menggunakan kekuatan rasio, anugerah
Allah untuk belajar dan memahami
ayat-ayatNya. Sehingga dalam Al-Qur’an dinyatakan bahwa Allah akan mengangkat
derajat orang berilmu ke derajat yang luhur (lihat: Qs. Al-Mujadalah: 11).
Devinisi belajar menurut Hilgard adalah proses yang melahirkan atau mengubah suatu
kegiatan malalui jalan latihan baik didalam kelas maupun di luar kelas. Sumandi
Suryabrata (2005) membuat kesimpulan bahwa dalam belajar harus membawa
perubahan baik actual mupun potensial, adanya kecakapan baru dan perubahan itu
terjadi karena usaha yang dilakukan.
Disamping itu dapat dipahami bahwa
manusia membutuhkan waktu yang relative lama untuk belajar, sejak dari masa
kanak-kanak sampai masa tua sepanjang kehidupaanya. Karena itu manusia selalu
dan senantiasa belajar kapanpun dan dimanapun. Hal ini sejalan dengan konsep Life long Education (pendidikan
sepanjang hayat) bahwa pendidikan tidak berhenti hingga individu menjadi
dewasa, tetapi tetap berlanjut sepanjang hidupnya. Jauh sebelum konsep ini
dikenal baginda Muhammad saw. sudah menjelaskan dengan lisan muliahnya dalam
haditsnya yang berbunyi “Tuntutlah ilmu mulai dari ayunan (buaian ibu) sampai
ke liang lahat (mati)”.
Syamsul Yusuf (2003) mencoba mengelompokkan tahapan perkembangan
individu dengan menggunakan pendekatan didaktis sebagimana berikut; Masa Usia
Pra Sekolah (anak berusia 3-5 tahun), Masa Usia jenjang pendidikan dasar, masa
usia jenjang pendidikan menengah (masa remaja) dan masa usia jenjang pendidikan
tinggi (umur 18 hingga 25 tahun). Masing-masing dari fase perkembangan ini mempunyai ciri-ciri dan tugas yang harus
diketahui oleh para orang tua dan pendidik.
Masa usia pra sekolah terbagi menjadi
dua yaitu: masa vital (penting) dan masa estetik. Pada masa vital individu
menggunakan fungsi-fungsi biologis untuk menemukan berbagai hal dalam dunianya.
Tugas perkembangan pembelajaran pada fase ini adalah: anak belajar makan,
belajar berjalan dan anak belajar berbicara. Pada masa estetik adalah masa yang
dianggap sebagai masa perkembangan rasa keindahan. Individu anak bereksplorasi
dan belajar melalui panca inderanya.
Adapun tugas pembelajaran pada masa ini yaitu: anak belajar membedakan yang
baik dan buruk, anak membedakan jenis kelamin, belajar sopan santun, anak
belajar mengeja dan membaca, anak belajar mengenal individu secara emosional
dan social. Dimulai dari mengenal orang tua, saudara, keluarga dan social
masyarakat.
Selanjutnya adalah masa usia jenjang
pendidikan dasar. Masa ini disebut pula dengan masa intelektual, atau masa
keserasian bersekolah pada umur 6-7 tahun anak sudah dianggap matang untuk
memasuki sekolah. Menurut Tohirin (2005:34) ciri utama anak yang sudah matang,
yaitu: memiliki dorongan untuk keluar daru rumah dan memasuki kelompok sebaya
(peer group), keadaan fisik yang memungkinkan anak-anak memasuki dunia bermain
dan pekerjaan yang membutuhkan keterampilan jasmani, memasuki dunia mental
untuk memasuki dunia konsep, logika, dan kumunikasi yang luas. Pada masa ini
terbagi dua dan mempunyai ciri masing-masing, yaitu: (1) masa kelas rendah (6
atau 7 sampai 10 tahun) dan (2) masa kelas tinggi (9 atau 10 sampai 13 tahun).
Pada masa kelas rendah bercirikan: sikap
tunduk kepada peraturan-peraturan permainan tradisional, adanya kecenderungan
memuji diri sendiri, membandingkan dirinya denga anak lain, apabila tidak dapat
menyelesaikan suatu soal maka soal itu dianggap tidak penting. Sedangkan
ciri-ciri pada masa kelas tinggi, yaitu: minat terhadap kehidupan praktis
sehari-hari yang konkret, amat realistik dan rasa ingin tahu untuk selalu ingin
belajar, minat pada hal-hal atau mata pelajaran khusus sebagai mulai
menonjolnya bakat-bakat khusus, dan gemar membentuk kelompok sebaya untuk
bermain bersama dengan membuat peraturan bermain sendiri.
Pada fase ini dimulai dari anak genap
berusia tujuh tahun hingga empat belas tahun. Di masa ini anak tengah
mempersiapkan dirinya untuk menjadi manusia matang dan satu anggota dari
masyarakatnya. Anak mulai menghilangkan kebiasaannya meniru apa yang dilakukan
oleh orang dewasa dan mulai memperhatikan alam serta lingkungan sekitar. Saat
itulah daya pikir anak mulai terbuka dan mampu untuk berimajinasi dan menangkap
banyak masalah yang tidak kasat mata. Ia mulai berpikir tentang dirinya
sendiri, memandang dirinya sebagai salah satu mahluk yang hidup, berdiri
sendiri, dan memiliki kehendak yang berbeda dengan orang lain.
Pada masa inilah orang tua harus
memberikan perhatian ekstra terhadap pendidikannya karena kini ia tengah berada
di awal hubungan sosialnya dalam lingkup yang lebih luas dengan masuknya di dunia
sekolah/pendidikan, baik formal maupun non-formal termasuk pada masa ini banyak
pula yang dititipkan di pesantren. Saat anak dalam dunia sekolah/pesantren berpotensi besar dalam membangun kepribadian
anak dengan adanya banyak teman disana yang masing-masing mamepunyai tingkat
kecerdasan dan kegesitan tersendiri. Anak akan tergugah untuk bersaing dengan
mereka dan hal itu sangat berpengaruh
pada karakternya. Beberapa faktor penting yang berkaitan dengan pembangunan
karakter anak dalam fase ini antara lain adalah pola interaksinya dengan orang
tua, seluruh anggota keluarga, guru, kiai, dan pengasuh.
Langkah-langkah penting yang
berhubungan dengan pendidikan anak pada fase ini, sebagai berikut: (a) dorongan
untuk belajar, (b) melatih anak untuk patuh, (c) pengawasan anak, (d)
pencegahan atas perilaku asusila, (e) menciptakan hubungan dengan teladan yang
baik, (f) pendidikan ekstra ketat, mendidik anak dengan baik dan benar serta
mengajarinya budi pekerti yang luhur merupakan tugas dan tanggung jawab yang berada di pundak orang
tua. Pada fase ini, anak sangat memerlukan perhatian dan pengawasan ketat dari
orang tuanya. Karena itu, orang tua harus meluangkan waktu dan tenaga yang
lebih besar. Tidak jarang kedua orang tua yang tidak mempunyai waktu lebih bersama
anaknya karena kesibukan kerja atau perihal lain menitipkannya pada Kiai atau
pengasuh di pondok pesantren, dan ini merupakan
pilihan yang tepat dan terbaik. Sebab, disinilah anak yang menjadi
santri ditempa, dididik dan dilatih hidup mandiri, sehingga terbentuklah karakter
kepribadian yang unggul di waktu kelak nanti.
Pendidikan yang ditekankan tidak lain adalah pendidikan dengan konsep
islami yang menjadikan masalah penghambaan kepada Allah dan ketaatan kepadaNya
menjadi poros segala masalah kehidupan dan tidak menafikan pendidikan yang
bersifat umum. Sebab keduanya ilmu agama dan umum berjalan bersamaan (Iskandar,
2012).
Sebagaimana hal ini perna dilakukan
oleh Ali a.s. saat melewati masa
kecilnya dirumah Rasulullah saw semasa beliau belum dilantik sebagai Nabi
agung. Ketika Rasulullah saw diangkat menjadi Rasul, Ali merupakan orang yang
pertama kali menyatakan keimanan secara tulus dengan ditunjukkan ketaatan
mutlak pada Allah dan rasul-Nya. Saat dewasa, beliau menjadi teladan tanpa
tanding dalam hal keberanian, pengorbanan, kedermawanan, kerendahatian,
kejujuran, dan seluruh keutamaan akhlak lainya. Pada giliranya Sahabat Ali r.a.
kemudian mendidik anak-anaknya dengan cara yang serupa sehingga mengantarkan
mereka sampai ke puncak kesempurnaan akhlak.
Begitu beratnya beban yang di tanggung
oleh orang tua dan pendidik, saat anak atau peserta didik pada masa
perkembangan dalam fase ini. Dimana proses mendidik anak sangat sulit, sehingga
diperlukan usaha dan keuletan yang lebih besar dari orang tua dan pendidik
dalam memberikan pendidikan, menjaga dan mengontrol setiap gerak-gerik anak,
termasuk pola berpikir, perasaan, dan pelajaran-pelajaran yang didapatkan dari
bangku sekolahnya. Di dunia pesantren, sepertinya mewakili konsep pendidikan
dengan karakteristik dan pola pengasuhan yang perna dicontohkan oleh sahabat
Ali r.a. ketika masa perkembangan pada fase seperti ini di rumah Rasulullah
saw. Sebagai penutup dari tulisan ini, anak pada masa ini tengah mmebutuhkan
pengarahan yang intensif dari orang tuanya dan pendidik, juga bimbingan mereka
dalam mengarungi samudera kehidupan yang penuh tantangan dan penuh dengan
liku-liku. Masa usia remaja, remaja awal dan remaja akhir akan diulas di edisi
berikutnya, jika Allah mengizinkan.
(Disarikan darii berbagai sumber)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar